Tragedi di Pangkalpinang: Bayi 11 Bulan Meninggal Diduga Akibat Kelalaian RS, Keluarga Tuntut Kejelasan
PangkalPinang- Sebuah insiden memilukan terjadi di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Pangkalpinang, yang mengakibatkan meninggalnya seorang bayi berusia 11 bulan berinisial AZ. Kepergiannya diduga kuat akibat kelambatan penanganan medis, sebuah tuduhan yang dibantah oleh pihak rumah sakit. Peristiwa ini pun menjadi sorotan setelah sebuah video yang menunjukkan keluhan keluarga viral di media sosial.

Baca Juga : Budidaya Anggrek Lokal Mengenal Puspa Pesona Indonesia dan Potensi Ekonominya
Dalam pernyataan resminya, Direktur RSBT Pangkalpinang, dr. R. Agus Subarkah, menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan pelayanan medis secara maksimal
“Sejak pasien pertama kali mendapat perawatan, seluruh tim medis telah berupaya dengan segenap kemampuan, memberikan pertolongan sesuai prosedur dan standar pelayanan medis yang berlaku. Berbagai langkah penyelamatan telah dilakukan dengan sepenuh hati, namun Tuhan berkehendak lain,” ujar Agus dalam keterangan tertulis yang diterima.
Agus menambahkan bahwa rumah sakit sedang melakukan investigasi internal terkait dugaan kasus ini. Ia juga menekankan pentingnya menjaga privasi keluarga dan kerahasiaan rekam medis pasien, sehingga detail penyakit yang diderita AZ tidak dapat diungkap ke publik.
“Kami memahami betapa besar rasa kehilangan dan kesedihan yang dirasakan keluarga. Dalam situasi ini, kami menghormati privasi keluarga dan mematuhi etika kedokteran,” jelasnya.
Proses pemulangan jenazah, menurut Agus, telah dilakukan dengan penuh penghormatan setelah seluruh prosedur medis dan administratif diselesaikan.
Namun, versi yang disampaikan keluarga jauh berbeda dan memilukan. Ibu dari almarhum, Ayi, menuturkan kronologi yang mengiris hati. Kasus ini bermula ketika AZ mengalami diare dan sakit perut. Karena kondisinya memburuk, AZ akhirnya dirawat inap.
Tragedi terjadi pada dini hari Selasa, 2 September 2025. Saat itu, kondisi AZ semakin kritis: demam tinggi dan buang air besar yang tidak berhenti. Dalam kepanikan, Ayi berulang kali menekan tombol darurat di ruangan untuk meminta pertolongan dokter atau perawat yang berjaga.
“Sampai anakku meninggal, tidak ada satupun yang datang. Saya teriak histeris, barulah perawat datang. Mereka hanya bilang tombolnya error,” ujar Ayi dengan suara bergetar saat diwawancarai wartawan di Pangkalpinang.
Pengakuan Ayi itu kontras dengan pernyataan resmi rumah sakit yang menjunjung tinggi prosedur. Keluarga menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban atas apa yang mereka alami. Mereka merasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi dan menyelamatkan.
Video yang memperlihatkan Ayi menceritakan kejadian tersebut telah menyebar luas di media sosial, memantik gelombang simpati dan kemarahan publik. Banyak netizen yang mempertanyakan kesiapan dan profesionalitas rumah sakit, terutama dalam hal respons tim medis terhadap keadaan darurat.
Insiden ini kembali memicu debat tentang kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya di rumah sakit daerah
Masyarakat mengharapkan investigasi yang transparan dan tidak berpihak, bukan hanya untuk menuntaskan duka keluarga AZ, tetapi juga untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Keluarga AZ bertekad untuk memperjuangkan keadilan, sementara RSBT Pangkalpinang tetap pada pendiriannya bahwa mereka telah bertindak sesuai protokol. Kebenaran dari kedua versi cerita ini masih menunggu hasil penyelidikan yang independen dan mendalam.






