Pertamina Gelar Pelatihan Inovatif, Bangun Ketahanan Budidaya Anggrek Hadapi Perubahan Iklim di Babel
PangkalPinang- Menyikapi tantangan era modern, perubahan iklim tidak hanya mengancam sektor besar industri, tetapi juga keindahan dan kelestarian flora lokal, termasuk anggrek yang menjadi puspa pesona Indonesia. Berkomitmen penuh terhadap pembangunan berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal (IT) Pangkal Balam meluncurkan program kemitraan lingkungan yang visioner: Pelatihan Budidaya Anggrek Cerdas Iklim.

Baca Juga : Buah Manis Pembinaan Semangka Kebanggaan Lapas Pangkalpinang Panen Raya
Program ini dirancang untuk memberikan solusi praktis dan strategis bagi para pelaku konservasi dalam mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim terhadap pertumbuhan anggrek, sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia di Bangka Belitung.
Menghadirkan Masterpiece Pengalaman Puluhan Tahun
Sebagai nara sumber utama, Pertamina menghadirkan kekayaan ilmu dari seorang maestro anggrek yang telah mendedikasikan hidupnya selama lebih dari lima dekade. Muslimin, pemilik dan pengelola Bukit Kejora Nursery, membagikan segudang pengalamannya yang dimulai sejak tahun 1970-an.
Bukit Kejora Nursery sendiri bukanlah tempat biasa. Selama 20 tahun lebih, nurseri ini telah bertransformasi menjadi pusat pembibitan, konservasi, dan destinasi edukasi yang diakui. Tempat ini tidak hanya memikat para kolektor dan pencinta anggrek dengan keindahan koleksinya, tetapi juga menjadi tempat program magang bagi berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga profesional di bidang hortikultura.
Peserta Beragam, Semangat Satu: Melestarikan Anggrek Babel
Antusiasme terhadap pelatihan ini terbukti dengan kehadiran 37 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan keilmuan, menciptakan kolaborasi yang sinergis. Turut hadir perwakilan dari Pekerja Harian Lepas Kebun Raya Tuatunu, para akademisi (dosen dan mahasiswa) dari Universitas Bangka Belitung (UBB), serta perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang.
Keragaman peserta ini memperkaya diskusi, membaungkan perspektif teoritis akademik dengan pengalaman praktis lapangan, sehingga menciptakan solusi yang komprehensif dan aplikatif.
Lebih dari Sekadar Teori: Praktik Langsung dan Evaluasi Mendalam
Pelatihan ini dirancang untuk langsung menjawab tantangan nyata di lapangan. Materi yang diberikan mencakup strategi budidaya dan perawatan anggrek yang adaptif terhadap kondisi iklim ekstrem, seperti musim kemarau panjang, hujan intensif, dan masa pancaroba yang tidak menentu.
Muslimin memaparkan dengan detail bagaimana suhu ekstrem dapat menyebabkan stres fisiologis pada anggrek, ditandai dengan daun menguning dan gagal berbunga. Sementara itu, hujan berlebihan memicu serangan jamur dan penyakit, dan kemarau panjang mengakibatkan dehidrasi serta kelayuan prematur.
Yang membedakan pelatihan ini adalah pendekatan hands-on dan evaluatif. Peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penanaman dan pemindahan anggrek. Lebih dari itu, Muslimin melakukan kunjungan dan evaluasi langsung ke lokasi konservasi anggrek di Kebun Raya Tuatunu.
“Berdasarkan evaluasi, saya menemukan beberapa aspek kritis yang perlu diperbaiki segera,” jelas Muslimin. “Mulai dari optimalisasi teknik penanaman, metode pembibitan, hingga rekonfigurasi ruang konservasi yang saat ini terlalu kedap udara dan kurang sirkulasi. Perbaikan ini crucial untuk menciptakan ekosistem mikro yang ideal, agar anggrek-anggrek koleksi dapat kembali produktif berbunga,” tegasnya.
Apresiasi dan Harapan untuk Kolaborasi Berkelanjutan
Inisiatif Pertamina ini mendapat sambutan dan apresiasi yang sangat positif dari para peserta dan pemangku kepentingan.
Winda, perwakilan DLH Kota Pangkalpinang, menyatakan bahwa program ini selaras dengan visi pemerintah daerah. “Pelatihan ini sangat sejalan dengan upaya kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati lokal, khususnya di tengah ancaman perubahan iklim. Kami berharap kolaborasi semacam ini dapat berkelanjutan dan menjadi contoh teladan bagaimana industri dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Bobi, salah satu peserta dari Kebun Raya Tuatunu, mengungkapkan kegembiraannya atas ilmu baru yang didapat. “Selama ini banyak ilmu yang kami pelajari secara otodidak. Ketika cuaca tidak mendukung, kami sering kali bingung harus bertindak bagaimana. Pelatihan ini membuka wawasan baru karena kami bisa praktik langsung dengan ahlinya dan mendapatkan evaluasi menyeluruh untuk lokasi kami. Kami sangat berharap teknik baru ini dapat mengembalikan keindangan anggrek-anggrek di Kebun Raya Tuatunu,” kata Bobi dengan penuh harap.
Komitmen Nyata Pertamina untuk Keberlanjutan
Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud nyata dari tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan.
“Program ini tidak hanya memberikan manfaat teknis-operasional, tetapi secara strategis memperkuat peran vital Kebun Raya Tuatunu sebagai pusat edukasi dan konservasi keanekaragaman hayati Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” pungkas Rusminto.
“Melalui kolaborasi ini, Pertamina berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian flora Indonesia, sekaligus meningkatkan kapasitas SDM lokal dalam mengelola konservasi yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim. Ini adalah investasi kami untuk masa depan yang lebih hijau,” tutupnya.






