Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Fenomena Viral di Mal Orang Datang Hanya Lihat-Lihat, Jarang Beli

Skintific

“Rohana & Rojali” Menguasai BTC Pangkalpinang: Tren Jalan-Jalan Tanpa Belanja yang Mengkhawatirkan

Pangkalpinang-  Suasana ramai menyelimuti Bangka Trade Center (BTC), pusat perbelanjaan modern di Pangkalpinang. Ratusan pengunjung memadati koridor mal, namun anehnya, sangat sedikit yang terlihat membawa kantong belanja. Fenomena unik ini viral di media sosial dengan sebutan “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya) dan “Rojali” (Rombongan Jarang Beli)—istilah yang menggambarkan kebiasaan masyarakat yang datang ke mal hanya untuk melihat-lihat atau sekadar bertanya, tanpa berniat membeli.

Fenomena Viral di Mal Orang Datang Hanya Lihat-Lihat, Jarang Beli
Fenomena Viral di Mal Orang Datang Hanya Lihat-Lihat, Jarang Beli

Baca Juga : Masa Kampanye Pilkada Pangkalpinang, Bawaslu Imbau Jaga APK Tetap Aman

Skintific

Mengisi Waktu Tanpa Menguras Dompet

Bagi sebagian pengunjung, BTC bukan lagi sekadar tempat belanja, melainkan destinasi hangout dan rekreasi. Mesie (19), mahasiswa Universitas Bangka Belitung, mengaku kerap datang hanya untuk menghabiskan waktu. “Lihat-lihat aja sih, sambil ngisi waktu. BTC enak, adem, dan ramai. Harganya memang lebih mahal dibanding online, tapi enggak jauh banget,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Selvi (20), yang menjadikan BTC sebagai tempat nongkrong bersama teman. “Ekonomi sekarang lagi sulit, jadi memang enggak banyak belanja. Tapi kalau momen besar seperti Lebaran, kami biasanya beli juga,” tuturnya.

Pedagang Merasakan Dampaknya

Fenomena ini bukan sekadar tren lucu di media sosial, melainkan realita yang dirasakan langsung oleh para pedagang. Liana, penjual pakaian bayi dan anak-anak, mengeluh penjualannya terus merosot, terutama setelah kasus korupsi timah senilai Rp271 triliun mencuat. *”Sekarang banyak yang cuma lihat-lihat atau tanya-tanya. Lebih sepi dari waktu COVID-19,”* keluhnya.

Meski begitu, Liana tetap berusaha positif. “Enggak apa-apa, yang penting masih ada yang datang. Rezeki sudah ada yang atur, tugas kami melayani dengan baik.”

Yuri, pedagang alat mengaji dan busana muslim, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, keramaian hanya terasa saat libur panjang atau menjelang hari besar keagamaan. “Sekarang banyak yang cuma jalan-jalan. Tapi kalau ada yang cocok, bisa langsung beli juga. Jadi tetap semangat saja,” katanya.

Makanan Cepat Saji Tetap Laris

Berbeda dengan pedagang pakaian, penjual makanan seperti Siti mengaku usahanya masih stabil. “Kalau makanan cepat saji kan murah, jadi orang tetap beli. Apalagi kalau hari libur, lumayan ramai,” ujarnya.

Fenomena Lama yang Kini Makin Nyata

Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), menyebut fenomena Rohana dan Rojali bukan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat pascapandemi. “Sudah ada sejak dulu, tapi kini makin terasa karena daya beli belum pulih, terutama di kalangan menengah ke bawah,” jelasnya.

Ia memperingatkan efek domino jika daya beli tak segera membaik. Untuk mengatasi hal ini, sejumlah pusat perbelanjaan kini gencar menggelar promo, terutama jelang Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah Ini Pola Konsumsi Modern

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai fenomena ini wajar dalam pola konsumsi masyarakat modern. “Itu biasa saja. Orang bisa pilih belanja online atau langsung ke toko. Banyak juga yang datang hanya untuk bandingkan barang sebelum beli online,” ujarnya.

BPS Daya Beli Stabil, Tapi Ada Tekanan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat daya beli masyarakat 2024-2025 cenderung stabil, meski dipengaruhi inflasi dan deflasi. Toto H Silitonga, Kepala BPS Babel, menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi:

  1. Musim dan cuaca (harga komoditas laut dan sayuran fluktuatif).

  2. Hari besar keagamaan (seperti Lebaran dan Cengbeng).

  3. Tahun ajaran baru (pengeluaran pendidikan meningkat).

  4. Kebijakan pemerintah (seperti kenaikan BBM dan tarif listrik).

  5. Kondisi ekonomi global.

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, menegaskan bahwa fenomena Rojali belum tentu mencerminkan kemiskinan, tetapi bisa menjadi sinyal tekanan ekonomi. “Ini relevan sebagai gejala sosial, terutama di kalangan rentan,” ujarnya.

Berdasarkan data Susenas Maret 2025, kelompok berpenghasilan tinggi pun mulai menahan konsumsi. Namun, hal ini belum berdampak signifikan pada angka kemiskinan nasional.

Apa Solusinya?

Fenomena Rohana dan Rojali adalah cerminan melemahnya daya beli dan perubahan perilaku konsumen. Di satu sisi, masyarakat tetap ingin merasakan pengalaman berbelanja offline, tetapi di sisi lain, keterbatasan ekonomi membuat mereka lebih selektif.

Apakah promo besar-besaran atau diskon menarik bisa mengembalikan minat belanja? Atau justru tren ini akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya ketergantungan pada e-commerce? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Skintific