Bukan Hanya Pamitan, Ini Momen Haru Kapolda Babel Irjen Hendro Pandowo ‘Ngopi Kamtibmas’ Terakhir Bareng Driver Ojol
PangkalPinang- Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai malam di sebuah warung kopi sederhana di Kota Pangkalpinang. Di sana, Irjen Hendro Pandowo, Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, duduk santai berbaur dengan puluhan driver ojek online (ojol). Acara bertajuk “Ngopi Kamtibmas” ini bukan sekadar temu ramah biasa, melainkan momen spesial untuk berpisah dan mengukir kenangan terakhir sebelum sang jenderal bintang dua itu berpamitan.

Baca Juga : Magis Gasing Kayu Meriahkan HUT ke-268 Pangkalpinang
Kegiatan yang juga dihadiri sejumlah pejabat utama Polda Babel ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus perpisahan yang mengharukan. Setelah mengabdi selama 14 bulan, Irjen Hendro akan meninggalkan Babel untuk mengemban tugas baru sebagai penyidik di Bareskrim Polri, berdasarkan surat telegram Kapolri. Posisinya akan digantikan oleh Irjen Viktor Theodorus Sihombing.
Pendekatan Humanis Sejak Awal Jabatan
Dalam sambutannya yang penuh kekeluargaan, Hendro mengungkapkan filosofi kepemimpinannya sejak pertama kali menjabat. Baginya, kedekatan dengan semua lapisan masyarakat, termasuk komunitas ojol, adalah kunci utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Dari hari pertama saya menjadi Kapolda, konsep saya jelas: bagaimana melakukan pendekatan kepada seluruh komunitas, dan salah satunya adalah kalian, rekan-rekan driver ojol,” kenang Hendro. Ia dengan bangga menekankan, “Sehingga, jauh hari sebelum terjadinya berbagai peristiwa yang menyita perhatian nasional, seperti kasus Affan Kurniawan di Jakarta, kita di Babel sudah lebih dulu sering bertemu dan membangun komunikasi yang baik.”
Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa pendekatan proaktif dan humanis yang dilakukannya bukanlah sebuah bentuk reaksi, melainkan sebuah strategi yang telah dijalankan dengan konsisten.
Mohon Maaf dan Doa Restu dari Hati yang Paling Dalam
Di hadapan para driver ojol yang selama ini menjadi mitra dan mata telinganya di lapangan, Irjen Hendro menyampaikan terima kasih yang tulus atas kontribusi seluruh masyarakat Babel dalam menjaga kamtibmas. Namun, momen yang paling berkesan adalah ketika ia dengan rendah hati meminta maaf.
“Sebagai manusia biasa, selama kurang lebih 14 bulan saya memimpin, pasti ada kekurangan. Pada kesempatan yang berharga ini, dari hati yang paling dalam, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya dengan suara bergetar penuh penghayatan. “Baik untuk tutur kata dan perilaku saya, yang disengaja maupun tidak, maupun jika ada anggota saya yang melakukan kesalahan selama bertugas.”
Sebagai penutup, mantan Sahli Sosbud Kapolri ini memohon doa dan restu. “Terkait kepindahan saya, saya mohon doa dan restu dari semua. Semoga saya dan keluarga diberikan kekuatan, kesehatan, dan di tempat yang baru nanti saya dapat menjalankan amanah ini dengan baik dan penuh tanggung jawab.”
Warisan Kepemimpinan: Jenderal yang Akrab dengan Warga
Selama 14 bulan memimpin, sosok Irjen Hendro Pandowo dikenal luas sebagai pemimpin yang humanis namun tegas. Citranya sebagai jenderal yang sering ‘turun gunung’ dan ngopi bareng di warung kopi pinggir jalan telah menjadi trade mark-nya. Tujuannya jelas: mendengarkan langsung keluh kesah dan aspirasi masyarakat.
Bahkan, ia aktif merespons keluhan warga yang disampaikan melalui media sosial Humas Polda Babel. Salah satu aksi nyatanya yang dikenang adalah ketika ia bersama jajarannya turun tangan membantu masyarakat yang kesulitan air bersih dengan membuatkan sumur bor.
Kehangatan malam perpisahan itu bukan sekadar ritual formal. Ia mengukuhkan sebuah model kepemimpinan polisi yang dekat dengan rakyat, di mana secangkir kopi dan obrolan santai bisa menjadi pondasi kokoh untuk membangun kepercayaan dan keamanan yang berjalan beriringan. Warisan inilah yang akan terus dikenang oleh masyarakat, terutama para driver ojol Bangka Belitung.
Para Driver Ojol pun Mengenang Kebaikan Sang Jenderal
Merespons permintaan maaf dan pamitan Kapolda, para driver ojol pun spontan membagikan kenangan mereka. Misalnya, salah seorang driver senior, Andi, menceritakan pengalamannya bertemu Hendro secara tidak sengaja di warung kopi.
“Suatu pagi, saya sedang sarapan dan beliau datang sendiri, tanpa pengawalan yang mencolok. Bahkan, beliau yang menegur saya duluan dan menanyikan kondisi kami dalam mencari penumpang. Pada akhirnya, obrolan itu berlangsung seperti obrolan antar teman saja. Beliau benar-benar mendengarkan,” kenang Andi dengan semangat.
Selain itu, perwakilan komunitas ojol, Bayu, menyampaikan terima kasih atas keterbukaan yang selama ini Irjen Hendro bangun. “Komunikasi yang Pak Kapolda buat sangat cair. Akibatnya, kami merasa memiliki partner untuk menjaga keamanan.
Transisi Kepemimpinan yang Diharapkan Meneruskan Tradisi Baik
Menyongsong kepemimpinan baru, masyarakat dan komunitas seperti ojol tentu memiliki harapan. Oleh karena itu, mereka berharap gaya kepemimpinan yang hangat dan dekat dengan akar rumput ini dapat berlanjut.
“Kami tentu berdoa untuk kesuksesan Pak Hendro di tugas barunya. Selanjutnya, kami juga berharap Kapolda yang baru, Pak Irjen Viktor Theodorus Sihombing, dapat meneruskan tradisi baik ini. Lagipula, pendekatan seperti ini sangat efektif untuk menciptakan rasa aman dari level paling bawah,” tambah Bayu mewakili suara rekan-rekannya.
Kesimpulan: Sebuah Pelajaran tentang Kepemimpinan yang Menyentuh Hati
Dengan demikian, kepergian Irjen Hendro meninggalkan jejak yang dalam. Pada akhirnya, warisan terbesarnya mungkin bukan pada statistik penurunan angka kriminalitas semata, melainkan pada terciptanya persepsi bahwa polisi adalah sahabat yang benar-benar hadir untuk masyarakat.






