Dari Babel untuk Peradaban: Kemenag dan MADADA Cetak Pengurus Masjid yang Visioner
PangkalPinang- Masjid sebagai pusat peradaban umat tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata. Untuk mewujudkan visi yang lebih besar tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengambil langkah strategis dengan menggandeng tim ahli dari Masjid Raya Bintaro Jaya.

Baca Juga : Polresta PangkalPinang Gelar Edukasi Kesehatan Tentang Bahaya Dan Pencegahan Hipertensi
Kolaborasi ini diwujudkan melalui program khusus bertajuk “Peningkatan Kualitas Kompetensi SDM Masjid” yang berlangsung selama dua hari, pada 25-26 September 2025, di Hotel Grand Safran, Pangkalpinang. Sebanyak 40 orang pengurus masjid terpilih dari seantero Babel hadir untuk menyelami ilmu manajemen masjid kekinian.
Dalam sambutannya yang membuka acara, Plt
Kakanwil Kemenag Babel, Pril Marori, ST., MM., menegaskan pentingnya redefinisi peran masjid di era modern. “Sudah saatnya kita menghidupkan kembali kejayaan masjid seperti pada zaman Rasulullah SAW. Masjid harus menjadi episentrum kegiatan umat; pusat pendidikan untuk semua kalangan, dari anak-anak hingga lansia, wadah pemberdayaan ekonomi, dan ruang solusi bagi masalah sosial masyarakat. Bukan sekadar bangunan untuk sholat lima waktu,” tegasnya dengan penuh semangat.
Pril Marori juga menyampaikan harapan besarnya agar pelatihan ini menjadi katalisator perubahan. “Melalui pembelajaran dari para praktisi handal hari ini, saya berharap setiap pengurus pulang dengan ‘toolkit’ lengkap. Toolkit untuk memberdayakan masjid, menjadikannya lokomotif kemajuan umat, dan akhirnya menghadirkan kejayaan bagi masyarakat Islam Bangka Belitung serta Indonesia,” tambahnya.
Belajar dari Best Practice: Mengapa MADADA?
Menurut Andi Jaenuri, S.HI., MM., Ketua Pelaksana kegiatan, ide menghadirkan Tim Masjid Berdaya dan Berdampak (MADADA) berawal dari kunjungan kerja Kabid Bimas Islam Kemenag Babel, Abdul Rohim, ke Masjid Raya Bintaro Jaya. Kesan mendalam didapat saat melihat langsung pengelolaan masjid yang sangat profesional dan berdampak luas.
“Yang membuat kami takjub adalah bagaimana masjid tersebut, dengan luas yang mungkin tidak sebesar beberapa masjid di Babel, mampu menggerakkan roda ekonomi dan memberdayakan jamaahnya dengan maksimal. Mereka memiliki segudang inovasi, dari pengelolaan keuangan yang transparan, program pelatihan kewirausahaan, hingga layanan sosial yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga sekitar. Ini yang ingin kita adopsi semangat dan metodologinya,” papar Andi Jaenuri.
Ia berharap, ilmu yang dibagikan oleh Tim MADADA dapat menjadi inspirasi dan diterapkan sesuai kearifan lokal Babel
“Kami punya aset masjid besar dan strategis, seperti Masjid Kubah Timah dan Masjid Agung Sungailiat. Semoga mereka bisa menjadi pelopor yang menduplikasi praktik baik ini, sehingga gelombang positifnya bisa dirasakan oleh seluruh masjid di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” pungkasnya.
Dengan diselenggarakannya pelatihan ini, Kemenag Babel menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya membangun fisik masjid, tetapi yang lebih penting, memberdayakan sumber daya manusia pengelolanya. Langkah ini diyakini akan menjadi titik awal kebangkitan masjid-masjid di Babel sebagai rumah peradaban yang inklusif, produktif, dan benar-benar berdampak bagi kesejahteraan umat.
Membangun Sinergi Konkret untuk Kemajuan Bersama
Tim MADADA, selanjutnya, membagikan berbagai studi kasus sukses. Misalnya, bagaimana mengelola lahan parkir masjid menjadi sumber pendapatan, atau mengoptimalkan dapur umum untuk program ketahanan pangan jamaah. “Kunci utamanya terletak pada manajemen yang transparan dan pemberdayaan berbasis komunitas,” jelas perwakilan MADADA, Ahmad Fauzi, dalam sesinya.
Antusiasme pun terlihat jelas di antara para peserta. Abdul Malik, pengurus Masjid Al-Ikhlas, mengaku mendapatkan perspektif baru. “Selama ini, kami fokus pada kegiatan kerohanian saja. Kini, kami menyadari bahwa masjid bisa menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Contohnya, kami berencana membuat koperasi simpan pinjam untuk jamaah,” ujarnya dengan semangat.
Tidak hanya itu, komitmen Kemenag Babel juga terus berlanjut pasca pelatihan. Plt. Kakanwil Kemenag Babel, Pril Marori, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah permulaan. “Kami akan membentuk forum komunikasi pengurus masjid secara berkelanjutan. Selain itu, kami merencanakan program pendampingan agar ide-ide brilian ini dapat benar-benar terwujud di lapangan,” tuturnya.
Pada akhirnya, kolaborasi antara Kemenag Babel dan MADADA ini menandai sebuah babak baru. Para pengurus masjid tidak hanya pulang dengan sertifikat, melainkan dengan semangat, jaringan, dan peta jalan yang jelas untuk mentransformasi masjid mereka menjadi pusat peradaban yang hidup, inklusif, dan memberdayakan.






